Cari Blog Ini

Memuat...

Harapan Rakyat Online

Harapan Rakyat Online


Jelang Eksekusi Mati di Nusakambangan, Polresta Banjar Amankan Perbatasan

Posted: 28 Jul 2016 10:31 AM PDT

Jelang Eksekusi Mati di Nusakambangan, Polresta Banjar Amankan Perbatasan

Jajaran Polresta Banjar, Jawa Barat (Jabar), menggelar "Operasi Cipta Kondisi", di jalan Siliwangi atau tepatnya di perbatasan Jabar-Jateng, Kamis (28/7/2016) malam. Foto : Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Jelang eksekusi 14 orang terpidana mati di Nusakambangan, Cilacap Jawa Tengah (Jateng), jajaran Polresta Banjar, Jawa Barat (Jabar), menggelar "Operasi Cipta Kondisi", di jalan Siliwangi atau tepatnya di perbatasan Jabar-Jateng, Kamis (28/7/2016) malam.

Kapolresta Banjar, AKBP Novri Turangga mengatakan, Operasi Cipta Kondisi ini digelar untuk antisipasi pelaksanaan eksekusi 14 terpidana mati di Nusakambangan. "Mengingat Banjar merupakan perbatasan langsung dengan Cilacap," tuturnya.

Dalam operasi tersebut, Polresta Banjar mengerahkan 70 personil. Sasaran utama dalam razia ini adalah bahan peledak, senjata api, dan senjata tajam. Setiap kendaraan yang melintas baik roda dua, roda empat dan truk, diperiksa secara insentif oleh petugas.

Novri menambahkan, selain diperiksa kelengkapan surat-surat kendaraan, barang bawaan penumpang pun tak luput dari pemeriksaan petugas.

“Selain STNK dan SIM, kami pun memeriksa barang bawaan penumpang, karena sasaran kami adalah senjata api, bahan peledak, senjata tajam, dan narkoba,” ujarnya.

Dalam Operasi Cipta Kondisi tersebut, tidak ada kendaraan yang mencurigakan, sehingga berjalan aman dan lancar. Rencananya, operasi ini akan dilanjut esok pagi. (Hermanto/R5/HR-Online)

Soal Biaya Seragam Paskibra, Ini Kata PHBN Langensari Banjar

Posted: 28 Jul 2016 08:47 AM PDT

Soal Biaya Seragam Paskibra, Ini Kata PHBN Langensari Banjar

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Polemik pengadaan seragam tim Paskibra Kec. Langensari, Kota Banjar, akhirnya menemui titik terang. Hal itu dipastikan penanggung jawab Panitia Hari Besar Nasional (PHBN) Kec. Langensari, Asno Sutarno, MP, kepada HR Online, Rabu (27/07/2016).

"Di minggu terakhir bulan ini, kami intensif turun ke sejumlah sekolah yang siswanya menjadi peserta Paskibra. Alhamdulilah sekolah memberikan setoran biaya sesuai kesepakatan," ucapnya.

Namun, Asno mengakui kalau seluruh biaya belum semuanya terkumpul, karena  sekolah swasta belum memberi biaya seutuhnya.

"Yang jelas untuk biaya seragam Paskibra itu sudah ada, bahkan panitia sudah membeli bahan dan perlengkapannya, termasuk sedang dijahit," tandasnya.

Sementara itu, Wakasek Humas SMPN 8 Kota Banjar, Ruhimat, menyayangkan sikap sekolah swasta yang terkesan tak mau membantu sepenuhnya pembiayaan pengadaan seragam Paskibra.

"Sekolah swasta yang siswanya ada yang menjadi peserta Paskibra, mestinya ikut peduli dan membantu biaya tersebut," ucapnya.

[ Berita Terkait : Disdikpora Kota Banjar : Masalah Seragam Paskibra Langensari Sudah Selesai ]

Menurut dia, sekolah swasta sama memiliki dana BOS. Apalagi, jika jumlah siswanya banyak hingga lebih 300 siswa, pasti mampu menanggulangi dan bisa memberi bantuan yang sedang dibutuhkan itu.

"Gambaran dan perhitungannya kan sudah jelas. Jika sekolah swasta memiliki total 300 siswa, ya… tinggal dikali Rp. 1 juta sebagaimana besaran dana BOS yang diterima per siswa SMP, nilainya kan cukup besar. Masa tidak bisa menyisihkan dan bantu," tukasnya.

Terlebih sudah jelas, Disdikpora Kota Banjar untuk tahun ini tak memiliki anggaran tersebut karena pemangkasan. Jadi wajar Disdikpora minta bantuan sekolah. Terpenting tahun depan, bisa menganggarkan kembali. (Nanks/R5/HR-Online)

Disdikpora Kota Banjar : Masalah Seragam Paskibra Langensari Sudah Selesai

Posted: 28 Jul 2016 07:16 AM PDT

Disdikpora Kota Banjar : Masalah Seragam Paskibra Langensari Sudah Selesai

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Banjar, mengaku, bahwa permasalahan seragam Paskibra Kecamatan Langensari, Kota Banjar, kini sudah selesai.

"Alhamdulillah masalah seragam Paskibra itu, sekarang sudah clear dan tertanggulangi. Kami sifatnya hanya memfasilitasi PHBN (Panitia Hari Besar Nasional) untuk minta bantuan ke sekolah. Dan katanya PHBN, kain seragamnya sedang dijahit," ucap Kasi Pemuda Disdikpora Kota Banjar, Hermawan, usai mengikuti rapat PHBN, di Aula Kec. Langensari, Rabu (28/07/2016).

Dia menjelaskan, sejak awal sudah katakan bahwa dinas menganggarkan seragam Paskibra hanya untuk Paskibra kota. Jadi, untuk Paskibra Kecamatan memang tidak ada anggarannya.

Menurutnya, di tahun-tahun sebelumnya Disdikpora bisa membantu biaya seragam Paskibra Kec. Langensari, walaupun jumlahnya tidak banyak.

"Tapi karena tahun ini anggaran dipangkas, Disdikpora tak bisa membantu dengan nilai uang, hanya fasilitasi saja ke sekolah. Terlebih itu adalah tanggung jawab PHBN Kecamatan," tuturnya.

"Namun InyaAllah untuk tahun depan, kita anggarkan lagi seragam Paskibra kota lebih besar, sehingga dapat untuk membantu pengadaan seragam Paskibra di tingkat kecamatan. Itu pun bagaimana disetujui atau tidak oleh dewan," kata Hermawan.

Disinggung soal sekolah swasta yang masih belum sepenuhnya membantu biaya pengadaan tersebut. Menurutnya, itu adalah kewenangan PHBN, dan Disdikpora tak mungkin melakukan tindakan apapun terhadap sekolah swasta.

"Yang jelas sebenarnya sekolah swasta itu mampu ikut membantu biaya tersebut, terlebih mereka sama dengan sekolah negeri memiliki dana BOS. Dana BOS itu bisa peruntukannya untuk kegiatan eskul seperti halnya Paskibra," pungkas dia. (Nanks/R5/HR-Online)

Bercinta dengan Pasangan Bikin Kecerdasan Otak Meningkat Loh!

Posted: 28 Jul 2016 06:29 AM PDT

Bercinta dengan Pasangan Bikin Kecerdasan Otak Meningkat Loh!

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Kesehatan, (harapanrakyat.com),-

Sebuah penelitian yang dilansir dari boldsky.com, menemukan cara unik dan menyenangkan yang dapat meningkatkan kecerdasan otak. Cara unik itu adalah dengan bercinta.

"Bersenang-senang dengan pasangan di atas ranjang bisa membuatmu jadi lebih pintar. Dalam sebuah penelitian, dimana tikus dijadikan sebagai obyek penelitian, ditemukan bahwa bercinta membantu merangsang otak untuk memproduksi sel neuron baru. Sel baru ini yang akan membuat kemampuan otak jadi meningkat," tulis penelitian tersebut.

Selain itu, karena bercinta merupakan salah satu aktivitas yang menyenangkan, sehingga tidak heran stres pun akan berkurang. Karena, saat stres berkurang maka kemampuan kognitif manusia akan meningkat dan membuatnya mampu mencerna apa saja dengan baik.

So, jika kamu sendiri sudah berpasangan, cobalah malam ini menghabiskan waktu dengan pasangan di ranjang, dan mendapatkan manfaat yang tersebut di atas. (Eva/R3/HR-Online)

Gara-gara Ini, Kepala Desa di Pangandaran Mundur dari Jabatannya

Posted: 28 Jul 2016 05:38 AM PDT

(Pilkada Pangandaran) APDESI: Sudah Tidak Ada Kades Jadi Pengurus Parpol

Ilustrasi Kepala Desa. Foto: Ist/Net

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kepala Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, Ruhyana, resmi mengundurkan diri dari jabatan Kepala Desa. Surat pengunduran diri Ruhyana sudah diterima oleh Ketua BPD dan Kecamatan.

Ketika ditemui Koran HR, Selasa (26/07/2016), Ruhyana mengaku sudah tidak mampu lagi memimpin Pemerintahan Desa Pangkalan.

"Meski masa jabatan saya masih lama, kurang lebih tiga tahun lagi, tapi saya merasa sudah tidak mampu meneruskannya. Agar pemerintahan Desa Pangkalan berjalan sesuai harapan masyarakat, maka saya merasa lebih baik mundur. Semoga nanti pengganti saya lebih siap menjalankannya," kata Ruhyana.

Ketua LPM Desa Pangkalan, Uba, mengatakan, meski saat ini Kepala Desa Pangkalan mengundurkan diri, tapi dia bersyukur pembangunan infrastruktur yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari berjalan dengan baik dan lancar.

"Agar pemerintahan berjalan dengan baik, maka diharapkan pemerintah dari tingkat kecamatan segera bertindak dan langsung menunjuk pejabat sementara sebelum dilakukan pemilihan kepala desa secara langsung," ungkapnya. (Ceng/Koran-HR)

Balapan Liar di Jl. Pengairan Banjar Resahkan Warga

Posted: 28 Jul 2016 05:38 AM PDT

Balapan Liar di Jl. Pengairan Banjar Resahkan Warga

Sekelompok remaja tampak bersiap-siap untuk mengadu kecepatan memacu sepeda motornya. Aksi balapan liar itu kerap terlihat setiap sore hari di Jalan Pengairan, Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Aktifitas balapan liar yang dilakukan sejumlah remaja kembali terjadi di Kota Banjar. Aksi kebut-kebutan berlangsung hampir setiap sore hari di Jalan Pengairan, Desa Sinartanjung, Kecamatan Pataruman.

Warga maupun pengguna jalan mengaku sangat terganggu dengan adanya aktifitas balapan liar tersebut. Seperti diungkapkan Yuli (32), salah seorang pengendara motor asal Langensari, bahwa sekelompok remaja kerap terlihat nongkrong di jalan tersebut sambil menyaksikan balapan liar rekan-rekannya.

"Siapa yang tidak gemetar saat lewat jalan itu, lalu tiba-tiba ada motor melaju dengan kecepatan tinggi. Padahal yang saya tahu arena balapan itu adanya di Sport Center, bukan di jalan umum," tuturnya, kepada HR, Rabu (27/07/2016).

Menurut Yuli, apapun alasannya, mau latihan atau judi balapan sekalipun, dirinya tetap mengecam aksi kebut-kebutan sepeda motor bukan pada tempatnya. Selain bisa membahayakan pengguna jalan lainnya, juga mengancam keselamatan si pelaku balapan liar.

Keluhan serupa juga diungkapkan seorang warga sekitar yang namanya enggan dikorankan. Warga tersebut mengaku geram dengan aksi mereka. Menurutnya, walaupun lokasi yang dijadikan balapan liar cukup jauh dari pemukiman warga, namun tetap saja meresahkan karena mengganggu pengguna jalan.

"Kalau ada patroli polisi, mereka pasti pura-pura sedang nongkrong biasa. Tapi kalau jalan agak lengang, mereka langsung memacu motornya beradu cepat di jalan, knalpotnya juga bising. Untuk itu saya harap patroli dari petugas kepolisian ke jalan ini lebih ditingkatkan lagi," harapnya. (Muhafid/R3/Koran-HR)

Ini Sebab Terjadi Konflik di Lahan Eks Startrust Pangandaran

Posted: 28 Jul 2016 05:31 AM PDT

Ini Sebab Terjadi Konflik di Lahan Eks Startrust Pangandaran

Petani penggarap lahan eks Startrus saat berdebat dengan perwakilan PT Pancajaya Makmur Bersama, di lahan eks PT Straturs, di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Rabu (27/07/2016). Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Konflik terkait areal tanah berstatus Hak Guna Bangunan (HGB) yang dikuasai PT Pancajaya Makmur Bersama yang sebelumnya dilimpahkan dari PT Sturtrus, di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, bermula ketika warga sekitar memanfaatkan tanah tersebut untuk lahan pertanian.

Setelah itu, ada perjanjian antara warga penggarap dengan PT Pancajaya Makmur Bersama sebagai pemegang ijin tanah HGB tersebut. Dalam perjanjian itu, warga penggarap diperbolehkan menggarap tanah untuk pertanian. Tapi, dengan syarat, hanya menaman tanaman tumpang sari atau umbi-umbian dan dilarang menanam tanaman keras.

Hal itu dikatakan Ketua DPRD Pangandaran, Iwan M. Ridwan, kepada HR Online, Rabu (28/07/2016). Perjanjian itu, lanjut dia, dituangkan dalam secarik kertas atas dasar musyawarah yang dilakukan kedua belah pihak. Namun belakangan, kata Iwan, terdapat petani penggarap yang datang dari luar daerah dan memanfaatkan tanah tersebut untuk lahan pertanian.

"Warga sekitar yang dulu melakukan perjanjian dengan pihak perusahaan sebenarnya tidak melakukan protes ketika diminta mengosongkan lahan tersebut. Karena mereka paham sudah ada perjanjian yang sudah disepakati. Namun, petani yang datang dari luar daerah ini yang tidak terima untuk mengosongkan lahan. Akhirnya, terjadi keributan antara petani pendatang dengan pihak perusahaan," terangnya.

Menurut Iwan, tanah HGB tersebut rencananya akan dilimpahkan oleh PT Panca Makmur Bersama ke perusahaan lain. Perusahaan atau investor yang baru itu, dikabarkan akan mendirikan bangunan di areal tanah tersebut.

"Ketika akan dilakukan pelimpahan, mungkin perusahaan baru tidak mau menerima apabila di atas lahan itu ada petani yang menggarap. Maka pihak PT Panca Makmur Bersama meminta para petani untuk mengosongkan lahan tersebut," terangnya.

Iwan mengatakan, pihaknya mendorong dalam penyelesaian masalah ini harus berpegang kepada aturan hukum yang berlaku. Apabila tanah itu sudah dikuasai oleh pihak ketiga melalui permohonan HGB, maka semua pihak harus menghormati keputusan hukum tersebut.

"Kalau masa berlaku HGB tanah tersebut sudah habis dan dinyatakan status quo, wajar kalau ada pihak yang menggarap. Namun dalam konteks tanah ini kan tidak. Tanah itu status HGB-nya masih berlaku. Artinya, PT Pancajaya Makmur Bersama secara hukum masih memiliki hak untuk mengelola," katanya.

Namun demikian, Iwan berharap munculnya konflik dalam permasalahan ini tidak berkepanjangan. Dan semua pihak harus mendukung terciptanya suasana kondusif di Kabupaten Pangandaran. (Ntang/Bgj/R2/HR-Online)

Berita Terkait

Penyebab Kisruh, Petani Persoalkan Legalitas HGB Lahan Eks Startrust Pangandaran

PT Pancajaya Bantah HGB Lahan Eks Startrust Ada Kejanggalan

Konflik Lahan Eks Startrust Pangandaran, PT Pancajaya Tantang Via Jalur Hukum

Di Lahan Eks Startrust Pangandaran Akan Dibangun Kawasan Pertokoan & Bisnis

Bupati Pangandaran: Tanah Eks Startrust Bukan Untuk Lahan Pertanian

Di Banjar, Pohon Pepaya “Tumbuh” di Tengah Jalan

Posted: 28 Jul 2016 05:19 AM PDT

Di Banjar, Pohon Pepaya

Sebatang pohon pepaya disimpan di tengah Jalan Raya Langensari, tepatnya depan proyek revitalisasi Pasar Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Photo: Nanang Supendi/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sebatang pohon pepaya "tumbuh" di tengah Jalan Raya Langensari, tepatnya depan proyek revitalisasi Pasar Muktisari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Pohon tersebut sengaja disimpan pada bagian jalan yang berlobang sebagai rambu-rambu agar para pengendara waspada saat melintas.

Pantauan HR Online di lokasi, Kamis (28/07/2016), selain terdapat sebatang pohon papaya, bagian jalan yang berlobang juga ditimbun dengan tanah, batu dan tumbukan bata merah supaya tidak tergenang air saat turun hujan.

"Saya tidak tahu persis siapa yang menanami pohon di jalan berlobang itu, entah warga sini atau pekerja proyek pasar. Tapi ya bagus juga, sebagai bentuk perhatian agar segera diperbaiki oleh pemerintah, karena memang banyak yang hampir celaka," kata Udin, salah seorang pedagang kaki lima (PKL) di sekitar jalan tersebut.

Menurutnya, kondisi jalan berlobang itu cukup dalam, sehingga kalau hujan tergenang air dan rawan menimbulkan kecelakaan lalu-lintas. Tak jarang sejumlah pengendara terjebak karena tidak tahu ada lobang yang menganga di tengah jalan.

Udin berharap, Pemerintah Kota Banjar melalui intansi terkaitnya bisa segera melakukan perbaikan. Jangan sampai  lobang yang tadinya kecil menjadi besar, sehingga akan semakin rawan terjadi kecelakaan. Terlebih lalu-lintas kendaraan di jalan tersebut setiap harinya cukup ramai. (Nanks/R3/HR-Online)

Bupati Pangandaran: Tanah Eks Startrust Bukan Untuk Lahan Pertanian

Posted: 28 Jul 2016 05:00 AM PDT

Bupati Pangandaran: Tanah Eks Startrust Bukan Untuk Lahan Pertanian

Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, saat menenangkan massa ketika terjadi pengerahan dua kelompok massa, yakni dari pihak petani penggarap dan perwakilan PT Pancajaya Makmur Bersama, di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Foto: Madlani/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Bupati Pangandaran, Jeje Wiradinata, menegaskan, areal tanah berstatus Hak Guna Bangunan (HGB) yang dikuasai PT Pancajaya Makmur Bersama yang sebelumnya dilimpahkan dari PT Sturtrus, di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, pada RTRW-nya (Rencana Tata Ruang Wilayah) tidak diperuntukan untuk kawasan pertanian. 

Sesuai dengan status tanahnya, lanjut Jeje, bahwa areal tanah tersebut harus digunakan untuk bangunan. "Jadi, petani yang menggarap di tanah itu harus mengerti dengan status tanah tersebut. Terlebih, secara hukum tanah itu masih dikuasai oleh PT Pancajaya Mamkur Bersama," katanya, kepada dihubungi Koran HR, Rabu (27/07/2016).

Jeje menambahkan, pihaknya akan mendorong PT Panca Makmur Bersama untuk segera menggunakan tanah tersebut. Karena sesuai dengan RTRW dan statusnya bahwa tanah itu ditempuh melalui ijin Hak Guna Bangunan (HGB).

"Kami dari pemerintah daerah akan mendorong semua pihak untuk patuh terhadap hukum. Kalau tanah itu pada RTRW dan berikut status tanahnya ditetapkan sebagai kawasan untuk berdiri bangunan, maka harus dilaksanakan," ujarnya.

Namun demikian, lanjut Jeje, pihaknya akan memediasi para petani dengan pihak perusahaan agar permasalahan ini tidak berkepanjangan. "Nanti akan kita pertemukan. Mudah-mudahan permasalahan ini ada jalan keluarnya. Namun, kami dalam menyikapi masalah ini, akan berpijak kepada hukum yang berlaku," ungkapnya.

Sebelumnya, dua kelompok berbeda yang masing-masing mempertahankan legalitas yang dimilikinya, terkait tanah eks Startras, di Desa Pananjung dan Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, nyaris bentrok, Rabu (27/07/2016). Beruntung, pihak keamanan bertindak cepat sehingga bentrokan pun dapat dihindari.

Dari pantauan Koran HR, pihak PT Panca Makmur Bersama, maupun dari pihak pengarap tanah sempat beradu argumentasi di lokasi eks Startrust. Pihak PT sendiri langsung membacakan keabsahan legalitas yang dimilikinya, begitupun sebaliknya dari pihak pengarap.

Karena situasi semakin memanas, pihak aparat keamanan pun meminta agar kedua belah pihak duduk bersama untuk berdiskusi mencari solusi terbaik agar tidak terjadi gesekan. (Ntang/Bgj/R2/Koran-HR)

Berita Terkait

Penyebab Kisruh, Petani Persoalkan Legalitas HGB Lahan Eks Startrust Pangandaran

PT Pancajaya Bantah HGB Lahan Eks Startrust Ada Kejanggalan

Konflik Lahan Eks Startrust Pangandaran, PT Pancajaya Tantang Via Jalur Hukum

Di Lahan Eks Startrust Pangandaran Akan Dibangun Kawasan Pertokoan & Bisnis

Jangan Bangga Perut Buncit karena Lemak! Ini Bahayanya

Posted: 28 Jul 2016 04:05 AM PDT

Jangan Bangga Perut Buncit karena Lemak! Ini Bahayanya

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Kesehatan, (harapanrakyat.com),-

Memiliki perut buncit penuh lemak dapat mengganggu penampilan dan juga bisa meningkatkan risiko terserang berbagai penyakit. Bahkan, tak sedikit diantaranya berujung kematian lantaran penyakit yang datang tidak main-main.

Kelebihan lemak di perut dapat menyebabkan penyakit jantung, sistem pencernaan yang tidak baik, serta tulang belakang yang tidak sehat. Selain itu, hipertensi dan diabetes pun siap datang. Dengan demikian, kita jangan menyepelekan masalah perut buncit akibat kelebihan lemak.

Perlu kita ketahui pula bahwa lemak perut berbeda dengan beberapa jenis lemak lain yang ada di dalam tubuh. Sebab, lemak perut memiliki banyak sekali kandungan racun, dan racun yang dibawa oleh lemak perut memungkinkan sekresi hormon tertentu dalam tubuh yang bisa mengakibatkan banyak kerusakan pada tubuh.

Salah satu hasil sekresi hormon adalah diabetes, dimana hormon-hormon tersebut membangun resistensi insulin yang dapat menyebabkan seseorang terkena diabetes. Bukan hanya itu, hormon ini juga bisa meningkatkan kadar kolesterol serta meningkatkan peluang seseorang menderita tekanan darah tinggi.

Menurut Boldsky, semua penyakit itu membuktikan bahwa lemak perut bukan hal yang patut disepelekan, karena bisa menjadi fatal. Serangan jantung, stroke, kanker, dan kematian merupakan efek terburuk dari adanya lemak perut.

Sel-sel lemak perut juga mampu melepaskan sitokin atau hormon sistem kekebalan tubuh yang dapat merusak sistem pengatur pembekuan darah, tekanan darah, serta sensitivitas insulin.

Untuk itu, masalah tersebut perlu ditangani serius. Segera singkirkan lemak perut dari tubuh dengan cara mengurangi konsumsi gula dan makanan manis, atau diet. Hal ini dapat membantu mengurangi lemak perut dalam jumlah besar.

Namun jangan lupa, perbanyaklah mengkonsumsi protein, sebab protein mampu secara efektif menyingkirkan lemak perut. Selain itu, ikuti langkah-langkah diet rendah karbohidrat. Cara lainnya yaitu makan makanan kaya serat karena bisa menguras racun sekaligus mengurangi lemak perut. Dan terakhir adalah rajin berolahraga. (Eva/R3/HR-Online)

Harapan Rakyat Online

Harapan Rakyat Online


Dua Pelabuhan di Pangandaran Siap Ditutup

Posted: 27 Jul 2016 08:41 AM PDT

Dua Pelabuhan di Pangandaran Siap Ditutup

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Mulai besok sore, Kamis (28/07/2016), dua pelabuhan yang ada di wilayah Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, akan ditutup untuk umum hingga selesai pelaksanaan eksekusi mati terhadap 14 orang terpidana kasus narkoba yang saat ini berada di Lapas Batu, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Kapolsek Kalipucang, AKP. Badri, mengatakan, dua pelabuhan yang akan ditutup itu adalah Pelabuhan Majingklak dan Pelabuhan Santolo. "Kami pun menghimbau kepada masyarakat, baik warga Pangandaran maupun Cilacap, untuk sementara waktu menggunakan jalur darat," katanya. [Baca berita terkait; Jelang Eksekusi Mati, Perbatasan Pangandaran-Cilacap Dijega Ketat].

Badri menambahkan, bahwa saat ini warga yang hendak menyebrang di Pelabuhan Majingklak menuju Cilacap, diperiksa oleh aparat kepolisian. Untuk berjalannya pengawasan pengamanan jelang eksekusi mati, penjagaan pun dilakukan secara bergiliran setiap dua jam sekali hingga pelaksanaan ekesekusi selesai. (Ntang/R3/HR-Online)

Jelang Eksekusi Mati, Perbatasan Pangandaran-Cilacap Dijega Ketat

Posted: 27 Jul 2016 07:59 AM PDT

Jelang Eksekusi Mati, Perbatasan Pangandaran-Cilacap Dijega Ketat

Aparat keamanan dari Polsek Kalipucang, tengah berjaga di Pelabuhan Majingklak, Kabupaten Pangandaran, jelang eksekusi mati 14 terpidana kasus narkoba di Lapas Batu, Nusakambangan, Cilacap. Photo: Entang SR/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Jelang eksekusi mati 14 para terpidana kasus narkoba di Lapas Batu, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang rencananya akan dilaksanakan pada Kamis malam (28/07/2016), aparat keamanan dari TNI dan Polri, kini mulai memperketat penjagaan di daerah perbatasan antara Kabupaten Pangandaran dengan Kabupaten Cilacap.

Hal tersebut dikatakan Kapolsek Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, AKP. Badri, kepada HR Online, Rabu (27/07/2016). Menurutnya, semenjak diumumkan eksekusi mati para terpidana kasus narkoba oleh pihak pemerintah pusat, maka pengamanan di wilayah perbatasan diperketat.

"Tidak seperti biasanya, pemantauan perbatasan antara Pangandaran dengan Cilacap, kini dipantau siang dan malam sampai pelaksanaan eksekusi selesai," terang Badri.

Pengawasan dilakukan bukan hanya di jalur darat saja, melainkan jalur laut pun sama. Bahkan, di Pelabuhan Majingklak dan Pelabuhan Santolo pun masuk ke dalam pemantauan aparat TNI dan Polri. (Ntang/R3/HR-Online)

Ini yang Disampaikan Watimin Saat Mampir di Banjar

Posted: 27 Jul 2016 06:58 AM PDT

Ini yang Disampaikan Watimin Saat Mampir di Banjar

Watimin, seorang pemuda asal Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jateng, memperlihatkan tulisan yang dipasang pada tas miliknya. Photo: Muhafid/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Aksi nekat berjalan kaki dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menuju Jakarta yang dilakukan Watimin (32), seorang pemuda asal Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, ternyata membawa misi untuk membuktikan kebenaran adanya wakil wakyat di DPR RI asal daerah pemilihan Cilacap.

"Saya ingin membuktikan apakah benar ada orang Cilacap yang duduk di kursi DPR RI. Kalau memang benar, saya akan menemuinya nanti ketika sudah sampai sana. Sebelumnya saya sudah pernah mendengar itu, tapi saya belum pernah bertemu langsung. Mudah-mudahan ketemu," tutur Watimin, kepada HR Online, saat dirinya tengah mampir ke Mapolsek Purwaharja, Kota Banjar, Rabu (27/07/2016). [Baca berita terkait; Saat Mampir di Banjar, Pemuda Ini Nekat Jalan Kaki Menuju Jakarta].

Watimin yang hanya berbekal uang Rp.96 ribu itu, ketika dirinya sampai di Mapolsek Purwaharja, sisa uangnya tinggal Rp.53 ribu. Dia mengaku, untuk menyambung hidupselama di perjalanan hingga sampai ke tempat tujuannya tidak mau meminta kepada siapapun.

"Kalau ada yang memberi saya terima, tapi saya tidak mau meminta. Setiap hari saya menargetkan makan 1 kali, untuk minumlah yang harus rutin. Saya mampir ke setiap Polsek untuk minta cap stempel, sekedar bukti saja," terangnya.

Dalam perjalanan nadzarnya, Watimin mengungkapkan kalau ibunya, Sarilah (70), mengidap penyakit tumor di atas mata bagian kananya. Selama 5 tahun ibunya menderita penyakit tersebut, dan Watimin sendiri hanya bisa pasrah. Saat itu dirinya berjanji, kelak jika ibunya sembuh, dia akan berjalan kaki ke Jakarta.

Watimin juga menceritakan, ibu saya dioperasi di rumah sakit yang ada di Jogjakarta menggunakan kartu jaminan kesehatan dari pemerintah. Makanya selain nadzar, dirinya pun ingin bertemu wakil rakyat asal daerahnya yang ada di DPR RI untuk menceritakan hal tersebut.

Dengan menggendong tas bertuliskan "Cilacap-Jakarta jalan kaki, putra Cilacap hebat," disertai tulisan "Ketemu Budiman Sujatmiko DPR RI Dapil Banyumas-Cilacap," Watimin juga membawa sebuah tongkat dilengkapi bendera merah putih sebagai bukti kecintaanya kepada negara. "Saya bangga menjadi orang Indonesia, ibu saya sembuh berkat bantuan pemerintah," tandasnya.

Watimin menargetkan perjalanannya menuju Jakarta akan menempuh waktu selama 20 hari. Untuk kepulangannya, dia akan kembali berjalan kaki menempuh jalur Utara. (Muhafid/R3/HR-Online)

Di Pangandaran, Rambu Lalin di Trotoar Bikin Geram Camat Kalipucang

Posted: 27 Jul 2016 06:21 AM PDT

Di Pangandaran, Rambu Lalin di Trotoar Bikin Geram Camat Kalipucang

Rambu lalu-lintas berupa arah penunjuk jalan, tampak terpasang di atas trotoar taman sekitar perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, wilayah Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Photo: Madlani/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Camat Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, Suryana, mengaku geram dengan keberadaan fasilitas trotoar di taman sekitar perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah yang kondisinya tidak terawat, kini malah dijadikan tempat menyimpan rambu lalu-lintas. Padahal, idealnya trotoar khusus hanya untuk pejalan kaki.

Hal itu diungkapkan Suryana, kepada HR Online, Senin (25/07/2016), terkait upaya Pemerintah Kecamatan Kalipucang, dalam rangka mewujudkan Sapta Pesona di Kabupaten Pangandaran sebagai salah satu daerah wisata di Jawa Barat.

Dalam upaya melaksanakan program Sapta Pesona, seluruh lingkup muspika bersama Polsek, Danramil, UPTD Pendidikan dan Kebersihan di Kecamatan Kalipucang, melakukan kegiatan bersih-bersih taman dan lapangan yang berlokasi di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah.

"Melihat kondisi seperti ini saya prihatin, karena fungsi dari trotoar yang harusnya khusus digunakan oleh pejalan kaki, malah berubah fungsi sebagai tempat menyimpan rambu lalu-lintas. Padahal kita sudah pernah mengingatkan supaya rambu tersebut dipindahkan agar tidak mengganggu pejalan kaki," ucapnya.

Bahkan, dirinya pun sudah pernah mengingatkan kepada bidang yang menangani penataan taman supaya bisa memfungsikan trotoar sebagai tempat khusus pejalan kaki, dan rambu-rambu lalu-lintas yang ada di atas trotoar segera dipindahkan.

"Bagaimana mau indah pemandangan taman kalau trotoarnya saja sudah beralih fungsi, bahkan sebagai tempat mangkalnya para pedagang kalau sore hari. Saya harap pihak terkait untuk menindaklanjutinya," tandas Suryana.

Selain itu, pihaknya juga berharap Pemda Kabupaten Pangandaran segera merealisasikan pembangunan tugu perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah yang ada di wilayah Kecamatan Kalipucang, termasuk penambahan fasilitas PJU.

"Kalau di wilayah kabupaten tetangga, tugu perbatasannya sudah ada dan terlihat indah. Mudah-mudahan pemda segera merealisasinya. Karena, untuk membangun Pangandaran diperlukan keterkaitan dari semua stakeholder yang mempunyai tujuan sama, yakni membangun Pangandaran sebagai kabupaten wisata tujuan dunia," pungkasnya. (Madlani/R3/HR-Online)

Kompepar Citumang Pangandaran Resmi Terbentuk

Posted: 27 Jul 2016 04:21 AM PDT

Kompepar Citumang Pangandaran Resmi Terbentuk

Kepengurusan Kompepar Citumang, Kabupaten Pangandaran, akhirnya resmi terbentuk. Photo: Asep Kartiwa/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Setelah sebelumnya objek wisata Citumang, di Dusun Sukamanah, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, ditutup sementara oleh Bupati Pangandaran karena berbagai hal, kini Kompepar Citumang akhirnya terbentuk.

Pertemuan yang digelar selama beberapa hari antara Pemdes Bojong, Perum Perhutani, para pelaku wisata obwis Citumang, Tripika Kecamatan Parigi, Kompepar Kabupaten, HPI, Asosiasi Tour and Travel Pangandaran (ATAP), dan Balawista, di Kantor Desa Bojong, berlangsung alot.

Namun, pada hari Rabu siang tadi (27/07/2016), sekitar 14.00 WIB, akhirnya Kompepar Citumang resmi terbentuk. Cicih Sukarsih, S.Pd., M.Pd., terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Kompepar Citumang.

Ketua Kompepar Kabupaten Pangandaran, Edi Rusmiadi, mengatakan, setelah terbentuknya pengurus Kompepar Citumang, diharapkan untuk segera membuat SOP (Standar Operasional Prosedur), baik pada pengelolaan objek wisata maupun SOP tentang kepemanduan.

"Para pelaku wisata harus memahami tugas dan fungsinya masing-masing. Misalnya, pemandu wisata bertugas sebagai pemandu dan tidak berhak untuk menjual paket wisata," terang Edi.

Kemudian, pengelola objek wisata juga bertugas hanya sebatas menjual pelayanan pariwisata yang ada di Citumang. Misalnya parkir, pelayanan kelengkapan rafting, asuransi dan tidak berwenang menjual paket wisata. Karena, yang berhak menjual paket wisata adalah Biro Perjalanan Wisata. Hal itu sesuai dengan Permen Parekrap RI Nomor 4 Tahun 2014.

Selanjutnya, kata Edi, pemandu wisata hanya bertugas melakukan kepemanduan di objek wisata tersebut. Pemandu juga harus berada dalam satu wadah pemandu lokal Citumang, yang nantinya akan berkoordinasi dengan HPI Kabupaten Pangandaran.

Untuk perekrutan pemandu baru, Kompepar Citumang pun harus membatasi perkrutan tersebut dengan aturan HPI, atau disebut sebagai Kode Etik Kepemanduan. Jangan sampai setiap orang boleh memandu, sebab dampaknya akan merugikan kepada semua pihak.

"Dari kesepakatan dan pembentukan ini, nanti akan dilaporkan ke pihak Pemkab Pangandaran melalui Tripika Kecamatan Parigi dan Dinas Pariwisata Kabupaten Pangandaran," kata Edi.

Sementara itu, Ketua Kompepar Citumang, Cicih Sukarsih, mengatakan, dengan dukungan dari semua para pelaku wisata Citumang, pihaknya siap untuk mendorong visi Kabupaten Pangandaran menjadi Kabupaten Pariwisata tujuan Dunia.

"Kami juga siap untuk mentaati aturan Pemerintah Kabupaten Pangandaran," tandas Cicih. (Askar/R3/HR-Online)

Wilayah Pamarican Ciamis Rawan Air

Posted: 27 Jul 2016 03:33 AM PDT

Wilayah Pamarican Ciamis Rawan Air

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Digelarnya kegiatan fasilitasi sinkronisasi revitalisasi melalui Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), yang digelar Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWSC) di aula Kantor Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Rabu (27/06/2016), Camat Pamarican, Drs. Yusuf Maolana, mengaku pihaknya menyambut positif.

Dia juga membenarkan, bahwa memang wilayah Kecamatan Pamarican saat ini sudah masuk dalam kategori dibatas ambang rawan air. Sehingga, penghijauan harus segera dilakukan. [Baca berita terkait; BBWSC Sosialisasikan Gerakan GN-KPA di Ciamis].

"Selama ini sumber mata air yang biasanya mampu memberikan banyak air bagi warga, sekarang kondisinya sudah kian berkurang. Kami selaku Pemerintah Kecamatan Pamarican, akan terus melakukan himbauan dan ajakan kepada masyarakat, agar mereka lebih giat lagi mengikuti program ini," tuturnya.

Menurut Yusuf, program GN-KPA tujuannya sudah jelas, yakni untuk meningkatkan dan melestarikan sumber mata air yang bermanfaat bagi warga. (Suherman/R3/HR-Online)

BBWSC Sosialisasikan Gerakan GN-KPA di Ciamis

Posted: 27 Jul 2016 03:06 AM PDT

BBWSC Sosialisasikan Gerakan GN-KPA di Ciamis

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Demi menjaga kestabilan sumber mata air yang berlimpah, Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWSC) menggelar kegiatan fasilitasi sinkronisasi revitalisasi melalui Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), bertempat di aula Kantor Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Rabu (27/06/2016).

Kegiatan yang diikuti oleh empat kelompok masyarakat desa, diantaranya Desa Sukarip, Desa Neglasari, Desa Margajaya dan Desa Sidamulih, bertujuan untuk penyelamatan air di masa depan.
Kepala Seksi Perancanaan OP dan Pemeliharaan Sungai Citanduy, Dadi Murhadio, saat ditemui HR disela-sela acara, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan sebuah program dari Kementrian dengan tujuan penyelamatan air untuk masa depan,

"Tujuan menyelamatkan air untuk masa depan, seperti upaya pelestarian lingkungan sumber mata air, dimana kita nantinya akan memperbaiki sumber sumber air dengan cara konservasi alam," terangnya.

Selain itu, lanjut Dadi, pihanya juga nanti akan melakukan reboisasi di tempat-tempat sumber mata air dengan cara melakukan penghijauan bersama-sama masyarakat. Pasalnya, sumber mata air untuk wilayah Pamarican saat ini sudah mengalami kerusakan.

"Untuk kegiatan hari ini kita akan langsung terjun ke tiap daerah, dimana di situ ada letak sumber mata airnya," kata Dadi.

Upaya pelestarian dan penghijauan tersebut bertujuan untuk mengembalikan kestabilan air agar nantinya air bisa berlimpah, serta mampu memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat. Bahkan, dalam kegiatan ini, BBWSC sudah membuat MoU dengan pihak Perhutani.

Hal itu sesuai intruksi kesepakatan dari delapan kementrian, diantaranya Kementrian PU, Kemendagri, Kementerian Agraria, Kementerian Tata Ruang, Kementerian Pembangunan Desa, Transmigrasi dan Bapenas.

"Untuk wilayah Kabupaten Ciamis, kegiatan BBWS seperti  ini sudah dimulai sejak tahun 2006, kebetulan tahun 2006 itu sudah ada dua kecamatan yang telah melaksanakan kegiatan ini, yaitu di Kecamatan Sukadana dan Kecamatan Padaherang yang kini masuk ke Kabupaten Pangandaran," jelasnya.

Sementara untuk wilayah Kecamatan Pamarican sendiri, baru tahun ini pihaknya akan mulai melaksanakannya, dan saat ini BBWSC baru melakukan peninjauan lokasi. Nanti, hasil implementasi dari kegiatan ini akan dilaksanakan pada tahun 2017.

Kemudian, dari empat kelompok masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut, nantinya harus mengajukan proposal sesuai kebutuhan, seperti untuk sanitasi sarana air bersih atau adanya lahan kritis yang perlu dihijaukan.

"Jadi, kita selaku pokja dari BBWS Citanduy akan menunggu keaktifan dari kelompok masyarakat. Di sini kami hanya selaku fasilitator untuk mendampingi mereka, dan jika sudah siap semuanya akan ada stimulan untuk pemacu kegiatan yang membutuhkan biaya," kata Dadi.

Biaya kegiatan tidak akan sepenuhnya ditanggung BBWSC, sehingga perlu adanya dukungan dari swadaya masyarakat atau bantuan dana dari kabupaten, atau dari desa setempat. (Suherman/R3/HR-Online)

Dapur Rumah Milik Warga di Ciamis Ludes Terbakar

Posted: 27 Jul 2016 01:40 AM PDT

Dapur Rumah Milik Warga di Ciamis Ludes Terbakar

Dengan peralatan seadanya, warga tampak berupaya memadamkan api yang melalap rumah milik Emong Komar, warga RT/RW. 02/05, Dusun Desakulon, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Photo: Edji Darsono/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Dapur rumah milik Emong Komar, warga RT/RW. 02/05, Dusun Desakulon, Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, ludes dilalap si jago merah, Rabu (27/07/2016).

Ketua RW setempat, Nana, mengatakan, belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran rumah milik salah satu warganya itu, namun diduga api berasal dari sebuah tungku yang ada di bagian dapur.

"Sebelum mengetahui adanya kebakaran, terdengar suara letupan-letupan seperti suara petasan. Tapi begitu melihat ke lokasi sumber suara ternyata terjadi kebakaran. Mengetahui ada kobaran api yang tengah melalap ruangan dapur milik Emong, saya langsung berteriak minta pertolongan warga," terangnya, kepada HR.

Menurut Nana, atas kesigapan warga yang berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya, dalam waktu singkat api pun dapat dipadamkan. Namun, akibat peristiwa itu tiga rumah lain yang ada di sekitarnya nyaris terbakar.

Meski belum dihitung secara pasti, ketiga rumah tersebut perlu perbaikan. Sedangkan, kerugian yang dialami Emong sendiri ditaksir mencapai jutaan rupiah. (Dji/R3/HR-Online)

Di Pangandaran, Puluhan Aparat Gabungan Disiagakan

Posted: 26 Jul 2016 11:07 PM PDT

Di Pangandaran, Puluhan Aparat Gabungan Disiagakan

Kapolsek Pangandaran, Kompol. Suyadi, didampingi aparat keamanan dari TNI dan unsur muspida setempat, saat memberikan keterangan kepada sejumlah awak media, terkait pengamanan di Startras Pangandaran. Photo: Entang SR/HR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, puluhan aparat gabungan dari TNI, Kepolisian dan Satpol PP di Kabupaten Pangandaran, hari ini, Selasa (27/07/2016), disiagakan. Menginggat, sampai saat ini situasi di kawasan tanah Startras Pangandaran masih menghangat.

Hal tersebut disampaikan Kapolsek Pangandaran, Kompol. Suyadi, yang juga sebagai pimpinan pengamanan di Startras, kepada sejumlah awak media, ketika ditemui di lokasi. [Baca berita terkait; Dua Kelompok di Pangandaran Nyaris Bentrok].

"Keberadaan aparat gabungan di Startras tiada lain guna mengamankan situasi di lapangan. Bilamana ada yang bertindak di luar prosedur, maka aparat gabungan tidak akan segan-segan untuk menangkap pelaku yang bertindak di luar prosedur," tegas Suyadi.

Pihak aparat gabungan pun meminta agar ke dua belah pihak bisa tenang dan menenangkan diri, baik dari warga penggarap ataupun dari pihak PT, dan tidak membawa senjata tajam (sajam) apapun.

Sebelumnya, sajam yang dibawa oleh ke dua belah pihak kini sudah diamankan oleh pihak kepolisian. (Ntang/R3/HR-Online)

Saat Mampir di Banjar, Pemuda Ini Nekat Jalan Kaki Menuju Jakarta

Posted: 26 Jul 2016 10:42 PM PDT

Saat Mampir di Banjar, Pemuda Ini Nekat Jalan Kaki Menuju Jakarta

Watimin pemuda asal Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap nekad melakukan jalan kaki dari rumah menuju Jakarta. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Seorang pemuda asal Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap nekad melakukan jalan kaki dari rumah menuju Jakarta. Watimin (32), melakukan misi jalan kaki karena dirinya berjanji (Nadzar) kepada Alloh SWT setelah kesembuhan penyakit tumor yang diderita ibunya.

Dalam perjalanan yang dimulai sejak kemarin sore, Selasa (26/7/2016), dari rumahnya, Watimin sebelumnya berpamitan kepada pihak keluraga, tetangga, perangkat desa untuk menunaikan nadzarnya.

"Berangkat kemarin sore mas dari rumah. Alhamdulillah semua pihak menyetujui aksi jalan kaki ini. Walaupun ibu sudah sembuh dari penyakit tumor yang berada pada bagian mata sebelah kanan sebelum lebaran, saya baru siap sekarang, mohon doanya saja," ucapnya kepada HR Online usai mampir ke Mapolsek Purwaharja, Rabu (27/6/2016).

Sementara itu, aksinya berjalan kaki dari rumah menuju Jakarta akan melalui jalan via jalur Bandung. Sedangkan tujuan utamanya adalah berjalan kaki mengelilingi Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Tugu Monumen Nasional (Monas).

"Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri akan melakukan jalan kaki tersebut jika ibu saya sembuh. Alhamdulillah Alloh memberikan kesembuhan kepada ibu saya. Otomatis saya harus menunaikan nadzar saya, karena kalau tidak dilaksanakan maka saya berdosa. Intinya ini wujud syukur saya kepada Alloh SWT," jelas Watimin.

Hanya berbekal baju serta perlengkapan sholat, dia juga membawa sebuah tulisan yang ditempel pada tasnya "Dari Desa Pucung Lor, Kroya – Cilacap menuju Jakarta jalan kaki Indonesia Sehat, putra Cilacap hebat". Selain itu, untuk beristirahat Watimin hanya mau bereteduh di tempat pihak keamanan, yakni Mapolsek yang ia lalui.

"Kalau di Masjid cuma sholat saja, tidur di Masjid saya tidak mau karena banyak yang curiga atau kejadian aksi pencurian seperti kotak amal ataupun lainnya. Saya cuma mau mampir ke Polsek saja, biar aman," tuturnya. (Muhafid/R6/HR-Online)

Harapan Rakyat Online

Harapan Rakyat Online


Geger, Warga Tasik Ditemukan Kejang-kejang Dekat Kantor TIC Pangandaran

Posted: 26 Jul 2016 10:01 AM PDT

Geger, Warga Tasik Ditemukan Kejang-kejang Dekat Kantor TIC Pangandaran

Warman, warga Cimanuk, Tasikmalaya, tengah menjalani perawatan medis di Puskesmas Pangandaran, setelah sebelumnya ditemukan warga kejang-kejang di samping Kantor TIC Pangandaran. Photo: Entang SR.

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Warga Pangandaran digegerkan dengan ditemukannya seorang lelaki yang mengalami kejang-kejang di samping Kantor TIC Kabupaten Pangandaran, Selasa sore tadi (26/07/2016), sekitar pukul 15.45 WIB. Melihat kondisi yang mencurigakan, akhirnya warga pun melapor ke kantor polisi terdekat.

Saat dikonfrmasi HR Online, Kapolsek Pangandaran, Kompol. Yudi, melalui anggotanya, Suharto, membenarkan adanya kejadian tersebut. Menurut Suharto, setelah diperiksa, orang tersebut bernama Warman, warga Cimanuk, Tasikmalaya.

"Sewaktu ditemukan oleh warga di lokasi kejadian, kondisi Warman hanya menggunakan celana dalam saja. Kami pun akhirnya membawa Warman ke Puskesmas Pangandaran untuk mendapatkan pertolongan medis guna memastikan kondisinya," terang Suharto.

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kini pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan. Selain itu, kendaraan mobil pick up yang dibawa oleh Warman, saat ini sudah diamankan di Mapolsek Pangandaran. (Ntang/R3/HR-Online)

Tak Lulus, Calon Pendamping Desa di Banjar Merasa Dicurangi

Posted: 26 Jul 2016 03:24 AM PDT

Tak Lulus, Calon Pendamping Desa di Banjar Merasa Dicurangi

Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Para peserta calon pendamping desa di Kota Banjar, kembali dibikin kecewa, terkait penyelenggaraan rekruitmen yang telah digelar Kementrian Desa RI dalam tahun 2016 ini. Karena, meski capaian nilai ujian cukup tinggi dan dinyatakan lulus menjadi pendamping desa, namun pada saat pengumuman resmi justru dinyatakan gagal.

Eko Yulianto, salah satu peserta calon pendamping desa, mengaku sangat kecewa, lantaran nilai yang dia peroleh berada di atas skor minimal sehingga dinyatakan lulus, tapi dalam pengumuman malah dinyatakan gagal.

"Alasan panitia yang dipakai adalah pengumuman resmi. Nah, dipengumuman resmi itulah saya tidak tercantum sehingga dinyatakan gagal," tuturnya, kepada Koran HR, Selasa (19/07/2016) lalu.

Dia mengungkapkan, bahwa keikutsertaannya seleksi calon pendamping desa tahun ini merupakan kali keduanya, setelah sebelumnya di tahun 2015 ikut ambil bagian. Untuk kedua kalinya pun Eko merasa kecewa.

"Jelas ada kecurangan dan ini ada permainan. Kami punya bukti itu, masa jelas-jelas seorang peserta nilainya di bawah, terlebih kurang memenuhi syarat dalam pemberdayaan desa, tapi ujungnya berhasil lulus," tukasnya.

Menurut Eko, sebuah program bagus untuk mendampingi desa yang secara langsung pula untuk memajukan negara, tapi sangat disayangkan dalam proses rekruitmennya masih tidak transparan.

Untuk itu harus ada pengawasan lebih ketat lagi supaya tidak terjadi hal-hal yang merugikan masyarakat. Termasuk dirinya pribadi akan ikut mengawasi kinerja pendamping  desa, khususnya yang ditugaskan di wilayah Kecamatan Langensari.

"Banyak peserta seleksi yang berpengalaman dalam pemberdayaan desa, tapi gagal lolos dan dibuat kecewa. Jadi tentunya bukan hanya saya saja yang akan ikut mengawasi kinerja pendamping desa. Alasan apapun, rekruitment ini sudah jelas berunsur politis dan tidak berkeadilan," tandas Eko. (Nanks/Koran-HR)

Banyak Perda Ciamis Belum Dijalankan, DPRD Bantah Dituding Kejar Setoran

Posted: 26 Jul 2016 01:20 AM PDT

Banyak Perda Ciamis Belum Dijalankan, DPRD Bantah Dituding Kejar Setoran

Ilustrasi Perda. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Wakil Ketua Badan Pembuat Peraturan Daerah (Bappemperda) DPRD Ciamis, Ade Amran, membantah pihaknya melakukan kejar setoran saat membuat Perda. Menurutnya, seluruh Raperda yang dibahas, sudah mendapat kesepakatan bersama antara DPRD dan Pemkab.

"Jadi, seluruh Perda yang disyahkan memang dibutuhkan untuk memperlancar roda pemerintahan Pemkab Ciamis. Baik Perda yang diusulkan Pemkab maupun yang diusulkan DPRD," katanya, kepada Koran HR, Selasa (19/07/2016) lalu. [Berita Terkait: Banyak Perda Ciamis Tidak Dijalankan, LPPM Unigal Salahkan DPRD]

Menurut Ade, sebuah usulan Raperda disyahkan menjad Perda, melalui beberapa tahapan, salah satunya kajian akademik. Dalam kajian akademik itu, salah satunya untuk membuktikan apakah aturan yang diusulkan dalam Raperda tersebut dibutuhkan masyarakat atau tidak.

"Jadi, dalam membuat Perda, tidak seenaknya bagaimana keinginan DPRD atau Pemkab. Ada tahapan penilaian yang melibatkan lembaga independent dalam hal ini akademisi dalam menentukan layak atau tidaknya sebuah Raperda bisa disyahkan menjadi Perda," katanya.

Namun, Ade mangakui bahwa pihaknya lemah melakukan koordinasi dengan OPD terkait  saat melakukan pembahasan Raperda. Tetapi, lemahnya koordinasi bukan disebabkan oleh DPRD, tetapi dari pihak OPD yang terkadang tidak merespon ketika diminta koordinasi dalam membahas Raperda.

"Kalaupun perwakilan dari OPD datang saat diundang rapat, mereka banyak diamnya dan tidak komunikatif. Saat kami tanya apakah ada masukan, mereka malah mengatakan setuju dan siap mengikuti kemauan DPRD. Kamipun terkadang kecewa dengan sikap OPD tersebut," katanya.

Ade mengaku saat melakukan kajian akademik, pihaknya sudah optimal melakukan sosialisasi dan mengundang pihak-pihak yang terkait untuk bersama-sama merumuskan Raperda. "Saat mengkaji Raperda PKL, kami mengundang para pedagang untuk melakukan dialog dalam rangka menyerap aspirasi. Begitupun saat mengkaji Raperda Pemekaran Banjarsari, kami langsung turun ke masyarakat. Dan bahkan melakukan penyebaran angket ke perwakilan masyarakat," terangnya.

Terkait pihaknya tidak melibatkan akademisi lokal Ciamis, kata Ade, karena pihaknya sudah memilih melakukan kerjasama dengan akademisi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung dan akademisi IPDN.

"Kami memilih Unpas dan IPDN karena alasan efektifitas. Pasalnya, akademisi Unpas dan IPDN sudah memiliki jaringan ke Kemenhunkam dan Kemendagri. Jadi, apabila kami membutuhkan konsultasi ke Kemendagri, bisa langsung difasilitasi," katanya. (Bgj/Koran-HR)

Berita Terkait

DPRD Sesalkan Masih Banyak Perda Ciamis yang Belum Dijalankan

Banyak Perda Ciamis yang Belum Dijalankan, Ini Alasan Pemkab

Banyak Perda Ciamis Tidak Dijalankan, LPPM Unigal Salahkan DPRD

Posted: 25 Jul 2016 10:14 PM PDT

Banyak Perda Ciamis Tidak Dijalankan, LPPM Unigal Salahkan DPRD

Ilustrasi Perda. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Setelah DPRD Ciamis menyoroti terkait banyaknya Perda Kabupaten Ciamis yang hingga kini belum dijalankan oleh Pemkab Ciamis, tampaknya membuat LPPM Universitas Galuh (Unigal) Ciamis angkat bicara. Namun, LPPM Unigal justru menyalahkan DPRD sebagai biang penyebab belum dijalankannya sejumlah Perda tersebut.

Sekretaris LPPM Unigal Ciamis, Endin Lidinilah, mengatakan, secara teknis memang penyebab belum berjalannya sejumlah Perda akibat belum dibuatnya Peraturan Bupati (Perbup) sebagai aturan turunan dari Perda. Namun, mandegnya dalam pembuatan Perbup, lantaran saat pembuatan Perda kerap kali kurang melibatkan sejumlah pihak, termasuk kurangnya koordinasi dengan OPD terkait. Selain itu, banyak terdapat muatan politis saat DPRD membuat beberapa Perda.

"Saya pernah soroti permasalahan belum berjalannya banyak Perda ke Pemkab Ciamis. Tapi ternyata banyak inisiatif DPRD yang terkesan memaksakan saat mengusulkan Raperda. Seperti contoh saat DPRD mendorong Raperda tentang Madrasah Diniayah. Tapi, setelah Raperda itu ditetapkan menjadi Perda, ternyata hingga saat ini tidak berjalan," katanya, kepada Koran HR, Selasa (19/07/2016).

Endin mengatakan, belum dijalankannya Perda tentang Madrasah Diniyah, karena dalam aturan itu tercantum klausul yang membebankan Pemkab harus mengalokasikan anggaran untuk bantuan program Madrasah Diniyah. Namun, di sisi lain, Pemkab belum sanggup mengalokasikan anggaran untuk Madrasah Diniyah.

"Dalam hal ini jelas lucu sekali. Kalau Pemkab tidak sanggup menyediakan alokasi anggaran untuk Madrasah Diniyah, kenapa DPRD memaksakan membuat Perda tersebut. Ini jelas kental sekali politisnya. Kami menilai DPRD hanya melakukan pencitraan politik saat membuat Perda Madrasah Diniyah," ungkapnya.

Selain itu, kata Endin, dirinya pun pernah berbincang dengan seorang pejabat Pemkab Ciamis. Pejabat tersebut, kata dia, mengeluhkan terhadap inisiatif DPRD yang banyak mengusulkan membuat Perda. "Jadi, DPRD ini seperti yang mengejar setoran saat membuat Perda. Mereka membuat banyak Perda dan menekan Pemkab untuk ikut menyetujui. Makanya, jangan aneh kalau saat ini banyak Perda yang tidak dijalankan," katanya.

OPD yang membidangi Perda yang mandeg tersebut, kata Endin, wajar kalau kebingungan apabila harus membuat Peraturan Bupati-nya. Karena, Perda yang sudah dibuat itu, secara subtansi belum dipahami oleh OPD, karena kurang dilibatkan saat pembuatan dan penyusunan Raperda-nya.

"Yang harus dievaluasi justru DPRD. Kenapa saat membuat Perda tidak melibatkan seluruh stakeholder. Termasuk DPRD tidak melibatkan akamedisi lokal Ciamis. Selain itu, DPRD pun harus selektif dalam memilih Perda, apakah urgensi atau tidak diundangkan," tegasnya.

Endin meminta DPRD agar melakukan evaluasi terhadap Raperda yang saat ini tengah dibahas. Jangan sampai Perda yang disyahkan tahun ini malah menambah jumlah Perda yang tidak dijalankan. "Pola pikirnya harus diubah. Terlebih, pola pikir kejar setoran demi mendapat honor SPPD dari pembuatan Perda harus dihilangkan. Jangan sampai anggaran yang sudah dikeluarkan untuk membuat Perda mubazir," tegasnya. (Bgj/Koran-HR)

Berita Terkait

DPRD Sesalkan Masih Banyak Perda Ciamis yang Belum Dijalankan

Banyak Perda Ciamis yang Belum Dijalankan, Ini Alasan Pemkab

Menghindari Lobang, Pemotor di Banjar Tabrak Pejalan Kaki Hingga Tewas

Posted: 25 Jul 2016 08:56 PM PDT

Menghindari Lobang, Pemotor di Banjar Tabrak Pejalan Kaki Hingga Tewas

Warga tengah mengevakuasi dua orang korban tabrakan antara pengendara motor dan pejalan kaki yang terkapar di Jalan Raya Cijurey-Puloerang. Korban pejalan kaki meninggal di tempat kejadian. Photo: Muhafid/HR.  

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kecelakaan lalu-lintas terjadi di Jalan Raya Cijurey-Puloerang, Lakbok, tepatnya di Dusun Cijurey, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Selasa pagi tadi (26/07/2016), sekitar jam 07.15 WIB.

Dalam peristiwa itu, Karman (60), warga Dusun Cijurey, meninggal di tempat kejadian akibat tertabrak sepeda motor bernopol Z 4859 YA yang dikemudikan Nurhidayati (30), warga Dusun Sukaharja, Desa Karyamukti, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar.

Menurut Saeful Amri (26), saksi mata, bahwa kejadian tersebut diduga kuat akibat pengendara sepeda motor melaju dari arah Karyamukti dengan kecepatan sedang. Namun, tiba di lokasi kejadian Nurhidayati menghindari jalan yang berlubang sehingga keluar dari jalan aspal dan menabrak korban yang sedang berdiri di pinggir jalan usai menyebrang.

"Saat itu saya lagi olahraga naik sepeda dari arah Karyamukti. Saya lihat ibu pengendara motor
itu menghindari lubang di jalan. Nah, di situ ada korban yang sedang berdiri usai menyebrang," terangnya, kepada HR Online.

Lanjut Saeful Amri, korban tertabrak hingga terpental masuk irigasi, sedangkan Nurhidayati pingsan terkapar di pinggir jalan dengan motornya yang ringsek di bagian depan.

"Korban saat tertabrak langsung meninggal, sementara pengemudi motor pingsan, tapi sempat sadar sebentar kemudian pingsan lagi karena mungkin trauma," ujar Saeful Amri.

Saksi lainnya, Endang (40), mengatakan, waktu itu korban hendak membeli ikan di kolam milik Hadis. Saat berjalan, Hadis tidak tahu kalau korban mengikutinya dari belakang.

"Saat korban tertabrak, warga tidak ada yang tahu persis. Cuma kalau mendengar suara motor jatuh, warga banyak yang mendengar. Korban sepertinya ingin tahu proses pengambilan ikan di kolam, dan Hadis sendiri mengaku tidak tahu kalau korban mengukitinya dari belakang," pungkas Endang. (Muhafid/R3/HR-Online)

Begini Cerita Asal Mula Nama Kampung Randegan di Kota Banjar

Posted: 25 Jul 2016 02:05 PM PDT

Begini Cerita Asal Mula Nama Kampung Randegan di Kota Banjar

Makam Mbah Tanu di komplek TPU Raharja, merupakan makam keramat karena Mbah Tanu diyakini sebagai pendatang pertama ke daerah Randegan. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sebagian besar masyarakat Kota Banjar, Jawa Barat, merupakan pendatang dari luar daerah. Belum ditemukan satu situs makam tokoh yang memiliki keturunan asli dan menjadi saksi bisu bahwa Banjar sudah ada sejak zaman dulu.

Adanya sebuah daerah perkampungan bernama Randegan di wilayah Pemerintahan Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, menjadi catatan penting bahwa Banjar adalah kota transit.

Secara bahasa, Randegan diartikan oleh sebagian penduduknya yang berlatarkan Suku Jawa adalah Pemandegan, dimana Mandeg artinya tempat berhenti. Sedangkan, menurut penduduk Suku Sunda, Randegan dikaitkan dengan kata Pangrandeg/Pangeureunan yang artinya tempat berhenti.

Menurut Kepala Desa Raharja, Hasyim, bahwa di wilayah pemerintahannya ada dusun yang bernama Randegan 1 dan Randegan 2. Secara kependudukan, masyarakat Desa Raharja terdiri atas dua suku besar, yakni Jawa dan Sunda.

"Berdasarkan cerita orang tua zaman dulu, penduduk suku Jawa di sini berasal dari daerah Kroya, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Kebumen. Sedangkan suku Sunda berasal dari daerah Kawali dan Gegempalan, Kabupaten Ciamis. Semuanya pendatang," ungkap Hasyim, saat ditemui HR di rumahnya, Selasa (19/07/2016).

Dalam penjelasannya, lanjut Hasyim, dulunya Randegan yang kini terletak di Desa Raharja dan Desa Mekarharja, merupakan daerah yang sering mengalami banjir dari Sungai Citapen dan Cijolang. Namun, setelah para pendatang mulai menempati daerah tersebut, kini banjir sudah jarang terjadi, kecuali di sebagian lahan pesawahan.

"Kalau secara umur, berdasarkan makam keramat yang ada, yakni makam Mbah Tanu, pendatang pertama ke daerah sini, sekitar 100 tahun lebih daerah ini dihuni sampai sekarang. Secara pertumbuhan sangat pesat, terutama ditopang adanya komplek perumahan, tercatat ada 200 perum yang rata-rata penghuninya adalah pendatang," terangnya.

Para pendatang yang sudah tinggal di Randegan sering disusul oleh keluarga maupun saudaranya dari kampung di dua suku besar tersebut. Sehingga, daerah Randegan menjadi 'pangeureunan' atau tempat bernaung para pendatang.

Setiap bulan Muharam, masyarakat Randegan selalu memperingati napak tilas pendahulunya dengan melakukan ziarah ke makam Mbah Tanu yang berada di komplek TPU Raharja.

"Jadi saya pikir antara Sunda dan Jawa sepakat bahwa Randegan bermakna sama, yaitu tempat berhenti, dan pembuktiannya mereka ada di sini," jelas Hasyim.

Senada dikatakan Kepala Dusun Randegan 2, Marino, bahwa kata Randegan berdasarkan sejarah bermula saat penjajahan Belanda. Pada saat itu, masyarakat yang hendak menyelamatkan diri dari kejamnya penjajah Belanda menempati daerah Randegan.

"Lama-lama sebagai pendatang mereka betah dan turun-temurun semakin bertambah, baik melalui proses pernikahan maupun membawa sanak saudaranya ke Randegan," kata Marino, ketika dihubungi HR via telepon.

Secara jelas, lanjut Marino, keturunan Mbah Tanu tidak ada di Banjar, yang ada hanya makamnya saja. Diduga saat menghuni Randegan Mbah Tanu hanya seorang diri dan tidak memiliki keluarga.

"Jadi Randegan memang mengartikan keadaan sebenarnya dari masyarakat sini, yakni pendatang. Secara bahasa, tidak perlu diperdebatkan karena dari Jawa dan Sunda mengartikan yang sama," pungkasnya. (Muhafid/Koran-HR)

Lolos Verifikasi BLUD, Puskesmas Kawali Ciamis Lengkapi Persyaratan

Posted: 25 Jul 2016 01:52 PM PDT

Lolos Verifikasi BLUD, Puskesmas Kawali Ciamis Lengkapi Persyaratan

Puskesmas Kawali, Kabupaten Ciamis. Foto: Ist/Net

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, kini sedang berupaya memenuhi persyaratan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No 23 tahun 2005.

Hal itu dilakukan setelah Puskesmas Kecamatan Kawali dinyatakan lolos dalam verifikasi peningkatan status Puskemas menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Kepala UPTD Puskesmas Kawali, Dr. Hedwico Ruchianp, MM, didampingi Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU), Yoyo Prihati Sanjaya, ketika ditemui Koran HR, Selasa (19/07/2016) lalu, mengaku, saat ini pihaknya sedang mempersiapkan berkas termasuk dokumentasi Puskesmas, untuk memenuhi persyaratan menjadi BLUD.

Setelah menjadi BLUD, kata Yoyo, pihaknya dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang prima, didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktifitas tanpa mengutamakan keuntungan.

"Setelah ditetapkan sebagai BLUD, dapat dipastikan pengembangan dan pengelolaan manajemen akan lebih profesional dan mandiri. Sebab, status Puskesmas mempengaruhi keuangannya," kata Yoyo.

Sumber Koran HR yang enggan disebutkan namanya, mengatakan, Puskesmas yang statusnya non BLUD, mau tidak mau harus tunduk pada ketentuan pengelolaan keuangan negara.

Sebab seluruh pendapatan yang diperoleh Puskesmas harus disetor ke kas Daerah. Kemudian baru dialokasikan kembali ke Puskesmas sebagai bagian dari rencana kerja yang diusulkan oleh satuan unit kerja pemerintah daerah.

"Sehingga, tidak menutup kemungkinan anggaran yang semestinya diterima tidak sesuai dengan skala prioritas yang telah direncanakan. Sedangkan untuk Puskesmas yang statusnya telah menjadi BLUD, dapat dipastikan segala sesuatu yang direncanakan akan tercapai, sebab ada kewenangan untuk mengelola langsung," katanya.

Di tempat terpisah, Kepala UPTD Puskesmas Cipaku, Dr. Aang Herdiana, Selasa (18/07/2016), mengungkapkan bahwa Puskesmas Cipaku belum tercatat sebagai Puskesmas yang diusulkan menjadi BLUD.

Meski begitu, kata Aang, pelayanan kesehatan terhadap masyarakat  berjalan dengan baik sesuai dengan Standar Opreasional Prosedur (SOP). Terkait dengan BLUD, Aang, menjelaskan, BLUD lebih fleksibel sebab ada keleluasaan untuk mengelola keuangan secara mandiri.

"Walaupun Puskesmas Cipaku belum dinyatakan lolos verifikasi, berbagai persyaratan  untuk meningkatkan status Puskesamas sudah dilakukan," katanya. (dji/Koran-HR)

Berita Terkait

5 Puskesmas di Ciamis Akan Diubah Statusnya Jadi BLUD

Dinkes Targetkan Tahun 2018 Seluruh Puskesmas di Ciamis Sudah Berstatus BLUD

Tak Tepat Sasaran, Warga Minta PJU di Pasar Bojongkantong Banjar Dipindah

Posted: 25 Jul 2016 01:21 PM PDT

Tak Tepat Sasaran, Warga Minta PJU di Pasar Bojongkantong Banjar Dipindah

Ilustrasi PJU. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Warga Lingkungan Langkaplancar, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, mempertanyakan tidak dipasangnya lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di Jalan Raya Banjar-Langensari, tepatnya di wilayah RT. 3, RW. 1.

Seperti diungkapkan Qodiran (28), salah seorang warga setempat, kepada Koran HR, Selasa (19/07/2016) lalu. Dirinya juga menyayangkan atas dipasangnya fasilitas tersebut di sepanjang jalan komplek Pasar Bojongkantong. Padahal, kondisi di lingkungan pasar tidak terlalu gelap sehingga pengguna jalan pun merasa nyaman dan aman saat melintas di kawasan tersebut.

"Di Jalan Raya banjar-Langensari ini yang sering terjadi kecelakaan, baik siang maupun malam, tapi malah tidak dipasang PJU. Menurut saya cabut saja PJU yang di pasar dan dipindahkan ke sini," ujar Qodiran.

Sejak dikeluhkan seringnya terjadi kecelakaan di Jalan Raya Banjar-Langensari, pihak pemerintah hanya memasang rambu lalu-lintas. Bahkan, keberadaannya pun kurang diindahkan oleh pengendara, khususnya pengguna sepeda motor.

"Aneh saja, tempat yang jelas bahaya kok dibiarkan. Sedangkan yang tidak bahaya malah difasilitasi berlebihan. Skala prioritasnya mana," tanya Qodiran.

Pendapat serupa juga diungkapkan Yitno. Menurut dia, warga sudah berulangkali menyampaikan keluhan soal gelapnya Jalan Raya Banjar-Langensari saat malam hari. Menurutnya, kondisi jalan yang menikung dan gelap tentu cukup membahayakan bagi pengguna jalan.

"Kota Banjar saya pikir tidak seperti di pedalaman. Ini jalan raya cukup ramai penggunanya, jadi kalau bisa tolong dipasang PJU," harap Yitno. (Muhafid/Koran-HR)

Pembatas Jalan di Sindangwangi Pangandaran Belum Diperbaiki

Posted: 25 Jul 2016 01:11 PM PDT

Pembatas Jalan di Sindangwangi Pangandaran Belum Diperbaiki

Pembatas jalan yang terdapat jalur utama Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran. Foto: Entang SR/HR

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Pembatas jalan yang terdapat jalur utama Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat, sudah hampir tiga tahun rusak dan belum juga diperbaiki.

Yanto, warga Padaherang, ketika dimintai tanggapan oleh Koran HR, pekan lalu, mengatakan, fasilitas pembatas jalan di jalur utama sangat diperlukan. Keberadaan pembatas jalan tersebut sangat bermanfaat untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas.

"Selain itu, keberadaanya juga memberikan rasa aman bagi pengendara," katanya.

Tapi sayang, setelah insiden kecelakaan yang melibatkan mobil box yang terjadi tiga tahun silam itu, pembatas jalan di jalur utama Desa Sindangwangi tersebut belum juga diperbaiki oleh pemerintah.

Senada dengan itu, Rudi, warga Sindangwangi, mengaku prihatin karena pembatas jalan di wilayah Desa Sindangwangi itu kondisinya dibiarkan rusak dan tidak juga diperbaiki. Padahal, jalur tersebut saat ini sangat ramai dilalui kendaraan wisatawan tujuan Pangandaran. (Ntang/Koran-HR)

Polres Ciamis Simpulkan Kelalaian Sopir Grand Max Penyebab Tabrakan Maut

Posted: 25 Jul 2016 12:37 PM PDT

Polres Ciamis Simpulkan Kelalaian Sopir Grand Max Penyebab Tabrakan Maut

Bus Rajawali terlibat tabrakan dengan mobil Grand Max hingga menghantam pagar rumah warga, di di jalan raya Sindangkasih-Cihaurbeuti atau tepatnya di Dusun Kidul RT 02/RW 01 Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Senin (25/07/2016) dini hari. Foto: Heri Herdianto/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Kanit Laka Lantas Satlantas Polres Ciamis, Iptu Husen Sujana, menyebutkan insiden kecelakaan maut yang memakan dua korban jiwa, di jalan raya Sindangkasih-Cihaurbeuti atau tepatnya di Dusun Kidul RT 02/RW 01 Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Senin (25/07/2016) dini hari, disebabkan dari kelalaian sopir mobil Grand Max bernama Nuryadi.

"Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan sejumlah saksi, diketahui bahwa sopir bernama Nuryadi yang tewas dalam kecelakaan ini diduga mengantuk saat melajukan mobilnya. Terlebih, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Karenanya, dalam peristiwa kecelakaan ini kami menyimpulkan bahwa Nuryadi sebagai penyebab terjadinya kecelakaan," katanya, kepada HR Online, Senin (25/07/2016). [Berita Terkait: Ditabrak Grand Max, Bus di Ciamis Hantam Pagar Rumah, 2 Orang Tewas]

Dengan begitu, lanjut Husen, pihaknya tidak melakukan proses hukum lebih lanjut dalam inisiden kecelakaan tersebut. Karena, orang yang layak bertanggungjawab dalam peristiwa kecelakaan ini turut menjadi korban dan meninggal dunia.

Sebelumnya, mobil mini bus Daihatsu Grand Max nopol B 1865 PRC dilaporkan mengalami tabrakan dengan Bus Rajawali nopol AD 1510 AU di jalan raya Sindangkasih-Cihaurbeuti atau tepatnya di Dusun Kidul RT 02/RW 01 Desa Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, Senin (25/07/2016) dini hari. Akibatnya, sopir dan penumpang mobil Grand Max dilaporkan tewas akibat kecelakaan tersebut. (Her/R2/HR-Online)

 
">Index »'); document.write('

?max-results=10">Label 6

');
  • ?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");